- 18 -

Imam Nasser Muhammad Al-Yamani
08 Safar 1432 H
14 Januari 2011 M
06:41 pagi
(Menurut penanggalan resmi Ummul Qura)
____


Keluasan ilmu yang menyeluruh terhadap Kitab Allah adalah bukti yang nyata bagi orang yang Allah pilih menjadi imam bagi manusia, bukan nasab.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada kakekku Muhammad Rasulullah, keluarga Muhammad yang dimuliakan, serta seluruh kaum muslimin yang mengikuti kebenaran hingga Hari Kiamat.

Wahai orang-orang yang aku cintai karena Allah, seluruh kaum muslimin dan para pencari kebenaran, marilah kita berhukum kepada Tuhan semesta alam agar Dia memutuskan di antara kita siapa yang berada di atas kebenaran. Apakah Allah mengutus para nabi, para rasul, dan para imam pilihan-Nya dari kalangan manusia agar mereka berdebat dengan manusia mengenai nasab, ataukah agar mereka menegakkan hujjah ilmu yang berasal dari Kitab? Keputusan yang benar kalian dapati dalam ayat-ayat yang muhkam dari Kitab, yaitu bahwa hujjah Allah atas kalian adalah Kitab Allah yang terpelihara dari penyimpangan, sebagai pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:

أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَىٰ مِنْهُمْ ۚ فَقَدْ جَاءَكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّـهِ وَصَدَفَ عَنْهَا ۗ سَنَجْزِي الَّذِينَ
يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ ﴿١٥٧﴾
صدق الله العظيم [الأنعام]

قَدْ جَاءَكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّـهِ وَصَدَفَ عَنْهَا ۗ سَنَجْزِي الَّذِينَ

يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ
صدق الله العظيم

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-An'am: 157)

Maka hujjah seorang penyeru kepada Allah merupakan syarat yang mendasar, yaitu Allah menganugerahinya kekuasaan ilmu sehingga ia menyeru kepada Tuhannya berdasarkan pengetahuan yang nyata dari Allah dengan kebenaran, baik ia seorang rasul maupun seorang imam yang dipilih. Allah telah menjadikan hujjah atas hamba-hamba-Nya berupa pemahaman ilmu terhadap Kitab, baik bagi Muhammad Rasulullah ﷺ maupun para imam yang mengikuti beliau serta para ulama kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٠٨﴾ صدق الله العظيم [يوسف]

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Yusuf: 108)

Kalian juga tidak akan mendapati bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk berdebat dengan manusia guna membuktikan nasab beliau kepada Rasulullah Ibrahim, semoga shalawat tercurah atas mereka semua. Demikian pula para nabi yang satu berasal dari keturunan nabi yang lain, namun kaum mereka tidak pernah meminta mereka membuktikan bahwa mereka benar-benar berasal dari keturunan para rasul. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿٨٤﴾ صدق الله العظيم [الأنعام]

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-An'am: 84)

Pada dasarnya mereka sendiri tidak mengetahui bahwa mereka berasal dari keturunan seorang nabi. Allahlah yang memberitahukan hal itu kepada mereka. Demikian pula Imam Mahdi Nasser Muhammad Al-Yamani. Dahulu ia tidak mengetahui bahwa dirinya berasal dari keturunan Imam Husain bin Ali, semoga shalawat tercurah atas beliau. Allah-lah yang mengajarkan hal itu kepadanya melalui kakeknya, Muhammad Rasulullah ﷺ. Lalu, apakah kalian menyembah para imam Ahlul Bait, wahai orang ini, ataukah kalian menyembah Allah? Betapa banyak orang yang mengaku berasal dari Ahlul Bait, namun tidak seorang pun dari mereka mampu menguasai lawannya dengan hujjah ilmu dari Al-Qur'an terhadap siapa pun yang berdebat dengannya menggunakan Al-Qur'an, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Mahdi Nasser Muhammad Al-Yamani.

Kemudian timbul pertanyaan: Seandainya kalian mengikuti Nasser Muhammad Al-Yamani dan memenuhi seruan kebenaran dari Tuhan kalian sehingga beliau mengembalikan kalian kepada manhaj kenabian yang pertama, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya yang benar; lalu ternyata Imam Nasser Muhammad Al-Yamani bukan berasal dari Ahlul Bait, apakah menurut kalian berarti kalian telah tersesat dari jalan yang lurus? Apakah kalian menyembah Allah ataukah menyembah hamba-hamba-Nya selain Dia? Tidakkah kalian bertakwa? Demi Allah, tidak seorang pun yang berakal dari kalangan Ahlul Bait mampu bersumpah kepada kalian dengan nama Allah Yang Maha Agung bahwa dirinya benar-benar termasuk Ahlul Bait tanpa sedikit pun keraguan, kecuali apabila telah datang kepadanya fatwa dari Allah mengenai dari keturunan siapa dirinya berasal. Karena itulah Imam Nasser Muhammad Al-Yamani bersumpah bahwa dirinya berasal dari keturunan Imam Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad ﷺ berdasarkan fatwa yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Maka mengapa kalian tidak memahami perkataan?

Wahai Az-Zahrani, siapa pun dirimu tidaklah penting bagiku. Jika engkau termasuk seorang muslim dari kalangan ulama umat ini, maka berdebatlah denganku mengenai apa yang diturunkan kepada kalian di dalam Kitab, bukan mengenai nasab. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, seandainya Allah menyeru kalian dari balik hijab lalu berfirman kepada kalian bahwa Nasser Muhammad Al-Yamani memang berasal dari keturunan Imam Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Muhammad Rasulullah ﷺ, namun Allah tidak menganugerahkan kepadaku ilmu Kitab, niscaya aku tidak akan mampu menguasai kalian sedikit pun dengan hujjah ilmu. Aku juga tidak akan mampu menunjukkan jalan kepada kalian, dan tidak akan mampu memutuskan perkara-perkara yang dahulu kalian perselisihkan. Apakah kalian tidak mengetahui bahwa Allah tidak memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam hingga terlebih dahulu Allah menguji mereka dalam keluasan ilmu? Ketika Khalifah Allah, Adam, telah membuktikan bahwa orang yang Allah pilih di atas mereka memang telah Allah tambahkan keluasan ilmu kepadanya, dan Adam membuktikannya dengan bukti yang nyata, yaitu bahwa Allah benar-benar telah memberinya keluasan ilmu, kemudian Khalifah Allah Adam memberitahukan kepada para malaikat yang dekat dengan Ar-Rahman tentang apa yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Barulah setelah itu turun perintah Ar-Rahman agar mereka benar-benar bersujud kepada Khalifah Allah, setelah Adam menegakkan hujjah ilmu dan kekuasaan atas mereka. Maka renungkanlah, pada saat yang manakah datang perintah sujud yang sesungguhnya?
Allah Ta'ala berfirman:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَـٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿٣١﴾ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ ﴿٣٢﴾ قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ ﴿٣٣﴾ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴿٣٤﴾ صدق الله العظيم [البقرة]

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-Baqarah: 31–34)

Maka perintah untuk benar-benar bersujud sebagai bentuk ketaatan baru datang setelah Adam menegakkan hujjah keluasan ilmunya di hadapan para malaikat yang Allah jadikan berada di bawah kepemimpinannya. Padahal sebelumnya Allah telah berbicara langsung kepada mereka dan telah memberitahukan bahwa Dia akan menciptakan seorang khalifah di bumi dari tanah, serta mereka harus bersujud kepada khalifah Tuhan mereka. Namun pembenaran terhadap perintah itu baru terjadi setelah Khalifah Allah, Adam, membuktikan keluasan ilmunya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ ﴿٣٣﴾ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴿٣٤﴾ صدق الله العظيم [البقرة]

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-Baqarah: 33–34)

Maka bukti bagi orang yang Allah pilih menjadi imam bagi manusia adalah keluasan ilmu,demikian pula keluasan jasad. Oleh karena itu, jasadnya setelah wafat tidak menjadi bangkai yang busuk ataupun tulang-belulang yang rapuh. Hal itu juga merupakan salah satu tanda bagi imam yang dipilih, bahkan setelah kematiannya. Allah Ta'ala berfirman:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّـهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّـهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّـهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٤٧﴾ صدق الله العظيم [البقرة]

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-Baqarah: 247)

Dengan demikian, keluasan ilmu yang menyeluruh terhadap Kitab Allah merupakan bukti yang nyata bagi orang yang Allah pilih menjadi imam bagi manusia. Maka tidakkah kalian bertakwa? Adapun seorang alim di antara kalian mengetahui sebagian perkara, tetapi tidak mengetahui sebagian lainnya. Ia dapat berada dalam kesesatan pada sebagian perkara, sementara ia sendiri tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam kesesatan. Sedangkan Imam Mahdi tidaklah seperti para ulama kalian yang kalian jadikan pembanding bagi Imam Mahdi yang dinanti. Maka silakan mereka mengalahkan Imam Nasser Muhammad Al-Yamani walaupun hanya dalam satu persoalan dari Al-Qur'an yang agung. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, para ulama dari kalangan manusia maupun jin tidak akan mampu mengungguli Imam Nasser Muhammad Al-Yamani dalam satu persoalan pun dari Al-Qur'an, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.

Bukankah Imam Nasser Muhammad Al-Yamani telah mengungguli kalian pada persoalan pertama yang menjadi awal dialog di situs ini, yaitu mengenai penafian adanya azab kubur di liang kubur serta penetapan bahwa azab itu berada di dalam Neraka Jahannam? Kalian tidak mampu membantah sedikit pun dengan ayat-ayat Allah, karena aku telah mengambil dalil-dalil yang dahulu kalian gunakan untuk membuktikan azab kubur, lalu aku menjelaskannya kepada kalian dengan kebenaran, tanpa keraguan sedikit pun, dengan penjelasan yang lebih baik dan penakwilan yang lebih benar daripada kalian.

Kini kami ingin berpindah kepada persoalan lain yang bermanfaat bagi kaum muslimin dan seluruh manusia. Aku mengajak kalian dan mereka semua agar berhukum kepada Kitab Allah, sementara kalian masih saja memperdebatkan persoalan nasab. Allah tidak mengutusku untuk membuktikan nasabku kepada kalian ataupun nasab kalian, tetapi Dia mengutusku agar aku berhujah kepada kalian dengan Kitab Allah, yaitu Al-Qur'an yang agung, dan berjihad terhadap kalian dengannya dengan jihad yang besar. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
﴿٥٢صدق الله العظيم [الفرقان]
Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-Furqan: 52)

Muhammad Rasulullah ﷺ juga tidak pernah berdebat dengan manusia mengenai nasab beliau kepada Nabi Ibrahim, semoga shalawat tercurah atas mereka. Sebaliknya, beliau menyeru manusia kepada Allah dan berhujah dengan ayat-ayat Kitab yang nyata agar membimbing mereka melalui Al-Qur'an yang mulia menuju jalan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴿١
صدق الله العظيم [إبراهيم]

Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Ibrahim: 1)

Akan tetapi, wahai Az-Zahrani, engkau justru berpaling dari mengikuti ayat-ayat Kitab. Maka bagaimana mungkin engkau tidak termasuk orang-orang yang akan diazab?

Adapun mengenai permintaan maaf, engkau sendiri mengetahui bahwa aku tidak menzalimimu sedikit pun. Engkau termasuk orang-orang yang dikuasai oleh kesombongan sehingga berbuat dosa, dan cukuplah Neraka Jahannam baginya. Apabila engkau ingin lari dari dialog dengan alasan aku tidak meminta maaf, maka sungguh kami telah menegakkan hujah atasmu dalam persoalan penafian azab kubur dan menetapkan bahwa azab itu berada di dalam neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang yang enggan dan menyombongkan diri.

Dan kami ingin beralih kepada pembahasan lain yang berkaitan dengan agama di dalam Kitab, bukan tentang nasab. Allah tidak mengutusku agar aku berhujah dengan kalian mengenai nasab, karena nasab tidak akan mengangkat derajat kalian di sisi Allah sedikit pun. Jadilah engkau anak siapa pun, maka nasabmu tidak akan berguna bagimu sedikit pun. Akan tetapi,
nasab yang benar menurut Kitab adalah nasab ketakwaan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّـهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣
صدق الله العظيم [الحجرات]
Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Al-Hujurat: 13)


Dan aku melihat bahwa engkau bukan termasuk orang-orang yang tak

ut kepada Tuhan mereka, wahai Az-Zahrani, karena engkau termasuk orang-orang yang tidak ingin mengikuti adz-Dzikr yang terpelihara dari penyimpangan, bahkan mengikuti sesuatu yang bertentangan dengan ayat-ayat muhkam dari adz-Dzikr. Oleh karena itu, telah nyata bagi kami bahwa engkau bukan termasuk orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan gaib. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَـٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ ﴿١١
صدق الله العظيم [يس]
Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. Yasin: 11)

Demi Allah, seandainya engkau termasuk orang-orang yang mengikuti Kitab Allah, yaitu Al-Qur'an yang agung, dan Sunnah Rasul-Nya yang benar, niscaya engkau tidak akan berselisih sedikit pun dengan Imam Mahdi Nasser Muhammad Al-Yamani, karena aku tidak mengingkari kecuali apa yang datang dari selain Allah. Adapun bagaimana aku mengetahui bahwa sesuatu itu berasal dari selain Allah, maka harus diterapkan kaidah untuk menyingkap hadis-hadis yang disisipkan, yaitu dengan mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkam Al-Qur'an. Maka setiap hadis yang diada-adakan, pasti aku dapati terdapat banyak pertentangan antara hadis itu dengan ayat-ayat muhkam Al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِندِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِّنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ ۖ وَاللَّـهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ ۖ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّـهِ وَكِيلًا ﴿٨١﴾ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّـهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴿٨٢
صدق الله العظيم [النساء]
Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. An-Nisa': 81–82)

Berdasarkan kaidah inilah aku mengajak kalian berdialog agar aku mengembalikan kalian kepada manhaj kenabian yang pertama, jika kalian benar-benar beriman kepadanya. Salam sejahtera atas para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Mencium Baitullah yang Mulia..
Adapun kalian telah menjadikan mencium Baitullah hanya terbatas pada Hajar Aswad. Hal itu karena kalian tidak mencium Baitullah, melainkan mencium Hajar Aswad. Dan itulah suatu bid'ah yang Allah tidak menurunkan dalil apa pun tentangnya, karena mencium Baitullah yang dimuliakan dapat dilakukan pada bagian mana saja darinya tanpa membedakan batu-batunya. Mereka telah memasukkan kalian ke dalam kesyirikan melalui berbagai bid'ah, sedangkan kalian tidak menyadarinya.

Hukuman Rajam..
Dan kami ingin beralih kepada pembahasan lain, yaitu menafikan hukuman rajam, serta mendatangkan kepada kalian pengganti yang benar dari ayat-ayat muhkam dalam Kitab, yaitu ayat-ayat Kitab yang jelas, baik bagi orang yang berilmu maupun orang yang tidak berilmu. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

سُورَ‌ةٌ أَنزَلْنَاهَا وَفَرَ‌ضْنَاهَا وَأَنزَلْنَا فِيهَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَّعَلَّكُمْ تَذَكَّرُ‌ونَ ﴿١﴾ الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَ‌أْفَةٌ فِي دِينِ اللَّـهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ‌ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٢
صدق الله العظيم [النور]
Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. An-Nur: 1–2)

Inilah hukuman zina dalam Kitab Allah yang muhkam, yang merupakan salah satu hukum yang paling jelas dan paling tegas penjelasannya bagi laki-laki dan perempuan yang berzina, yaitu seratus kali dera bagi masing-masing, baik mereka telah menikah maupun belum menikah.

Adapun budak laki-laki dan budak perempuan, maka hukuman bagi masing-masing adalah lima puluh kali dera, baik mereka telah menikah maupun belum menikah. Dan jika kalian tetap menolak, maka kami akan berkata kepada kalian: bagaimana pendapat kalian tentang hukuman bagi budak perempuan dalam firman Allah Ta'ala:

فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۚ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
﴿٢٥صدق الله العظيم [النساء]
Benarlah Allah Yang Maha Agung
(QS. An-Nisa': 25)

Di sini terdapat penjelasan mengenai hukuman zina bagi budak perempuan yang telah menikah, sekaligus penjelasan mengenai hukuman zina bagi perempuan merdeka yang telah menikah.
Maka menjadi jelas bagi kalian bahwa hukuman bagi perempuan merdeka yang telah menikah adalah seratus kali dera, sedangkan hukuman bagi budak perempuan yang telah menikah adalah setengahnya, yaitu lima puluh kali dera. Maka tidakkah kalian bertakwa? Kami akan menangguhkan dialog mengenai penafian hukuman rajam hingga pembahasan tentang azab kubur mencapai dua puluh halaman. Apabila telah mencapai dua puluh halaman sementara Az-Zahrani dan selainnya tidak juga mengakui ataupun mengingkari, maka kami akan menganggap ketidakmampuan mereka sebagai bukti telah tegaknya hujah atas mereka, sehingga tidak perlu lagi menuntut pengakuan mereka. Sebab pembahasan pertama telah mencapai dua puluh halaman, namun Abu Firas maupun yang lainnya tidak mengakui bahwa azab setelah kematian sesungguhnya berada di dalam neraka, bukan di dalam liang kubur, meskipun mereka tidak mampu memberikan jawaban dari ayat-ayat muhkam dalam Kitab Allah. Maka telah tampaklah kebenaran, wahai orang-orang yang berakal.

Kami akan beralih kepada pembahasan penafian hukuman rajam yang terdapat dalam sunnah Nabi. Dan hasilnya pun akan sama. Imam Mahdi Nasser Muhammad Al-Yamani akan mendatangkan kepada kalian bukti yang nyata mengenai hukuman zina, serta menjelaskannya secara terperinci. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang sangat keji dan seburuk-buruk jalan.

Salam sejahtera atas para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Saudara para ulama kaum muslimin dan umat mereka,
Imam Mahdi Nasser Muhammad Al-Yamani.
_______________

Sumber:
https://nasser-alyamani.org/showthread.php?p=36847